decoration decoration decoration
decoration
leaf leaf leaf leaf leaf
decoration decoration

Thanks to you afternoon! Engkau Telah Mengajarkan arti Keikhlasan dan Mencintai Kehilangan

Thanks to you afternoon! Engkau Telah Mengajarkan arti Keikhlasan dan Mencintai Kehilangan

Aku punya satu masa-masa yang tidak jarang kali membuatku senyum mengudara, berteriak dan tertawa tak henti guna bercerita, sebagai saksi saat hati makin mendera dan saat pikiran sedang menggema. Waktu yang tidak jarang kali melupakan arti hampa, berbisik kata merona, estetis karena jingga yang berbahasa, ku kenalkan, dia ialah senja.

Aku merasa bahagia dan mencintainya, sebab senja, aku POKERTIAM  dapat leluasa menjamah kata, merekrut asa, dan beraksara dalam cinta. Langit telah membuat sela rindu yang makin membuncah. Menghirup angin yang terus diberi peluang menengadah. Senja pun sudah mengetuk hatiku dengan ramah, menyerahkan cinta estetis dan menggenggam jemari tanpa bantah, tapi kini hanyalah berbatas PERNAH.

Aku sedang bertanya-tanya pada keadaan, kenapa senja begitu cepat berubah haluan. Jingga nya segera berlari mengarah ke peraduan. Ah..! Mengapa masa-masa tidak lumayan panjang guna kita habiskan dan mengapa suasana malam melulu sebentar anda nikmati berdua guna berjalan? Bukankah anda berjanji di hadapan Tuhan. Bahwa anda akan terus menyukai tanpa beralasan? Dan menggenggam kuat ketika sedang kedinginan?

Aku tersadar, tentang sore yang melulu sebentar. Senja yang melulu menjamah tak terkejar. Senja sudah mengajarkanku masa-masa yang paling singkat dan memberi ku definisi untuk menyukai kehilangan.

Thanks to you afternoon! Engkau Telah Mengajarkan arti Keikhlasan dan Mencintai Kehilangan

Aku sadar, senja ialah penjemput malam yang terabaikan. Kini terdapat bayang yang belum sukses diselamatkan, yakni merindukanmu sedang berlangsung tanpa arahan dan tujuan. Dari senja, aku bakal belajar mengikhlaskan tanpa mesti melupakan. Karena dia begitu indah, jejak tahapan kita dalam kenangan. Sejarah pertemuan yang mesti pulang menjadi perpisahan. Tidak terdapat lagi sore yang dinantikan.

Aku menguatkan diri di sebuah lembaran pagi. Berkutat hening dalam suatu dentingan waktu. Merangkak demi tahap, seakan menyanggah diripun memerlukan bembarap. Aku, yang mesti bergegas pergi dari rindumu yang mesti telah ku nikmati sendiri dalam malam dan udara yang sunyi.

Untuk anda yang pernah ku titipkan arti cemburu. Masih bolehkah aku menggantungkan kata rindu? Meski ku tau, sekarang peradapan telah membeku, mengadu juga sudah untuk abu. Pergilah, tidak terdapat yang mengharu, tengok sesekali ke masa lalu, bila ada aku yang selalu merasakan waktu senja.

Terima kasih sore yang telah mengajarkan tentang makna keikhlasan dan menyukai kehilangan. Terimakasih sore yang dulu pernah memperbolehkan ku membumikan cemburu dan melangitkan rindu. Mungkin sekarang semua rasa ku bakal membeku.

LEAVE A REPLY

loading
×